Minggu, 08 Juni 2014
Semoga Bermanfaat
Q ingin apa yang aku lakukan dan apa yang aku tuliskan sellu bermanfaat untuk orang lain, karena slama hidup_ku Q gk pernah melakukannya.. :D
Jumat, 06 Juni 2014
Histologi Sistem Sirkulasi
LAPORAN
HISTOLOGI HEWAN
Sistem
Respirasi

Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Firda Agustina
LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULIAN
2.1 Dasar Teori
Sistem respirasi berperan untuk penyediaan oksigen untuk darah dan
membuang CO2. Sistem respirasi dibagi
menjadi 2 bagian utama yaitu bagian konduksi dan bagian respirasi. Bagian
konduksi meliputi rongga hidung, nasopharynx, larynx, trakea, bronkus dan bronkiolus.
Bagian ini berperan untuk menyediakan saluran di mana udara dapat mengalir ke dan dari
paru-paru, memelihara udara yang diinspirasi
(dibersihkan, dibasahi dan dihangatkan).
Untuk melaksanakan fungsi tersebut,
maka pada saluran respirasi terdapat tulang-tulang rawan, serabut elastin dan otot polos. Tulang rawan berperan sebagai penyokong
dinding bagian konduksi. Serabut-serabut
elastin dapat menjamin fleksibilitas struktur dan memungkinkan kembali ke
bentuk semula setelah meregang. Berkas
otot polos terdapat pada lamina propria dan berperan untuk mengurangi diameter
saluran berarti mengatur aliran udara
selama inspirasi dan ekspirasi (Anthony, 2002).
Pada pemeliharaan udara,
pembersihan dilakukan oleh epitel bersilia yang berfungsi membuang
partikel-partikel debu dan zat-zat lain.
Untuk membasahi saluran respirasi diperlukan peranan dari
kelenjar-kelenjar mukus (sel-selnya terdiri sel mukosa dengan granul sekresi
yang besar dan jernih) dan seromukus (gabungan sel serosa dan mukosa, dimana
sel serosa mempunyai granul sekresi yang mudah diwarnai). Untuk menghangatkan
diperlukan peranan dari pembuluh darah (Luis, 2007).
Sistem respirasi atau sistem pernapasan mencakup
paru-paru dan sistem saluran bercabang yang menghubungkan tempat pertukaran gas
dengan lingkaran luar. Udara digerakkan melalui paru oleh suatu mekanisme
ventilasi, yang terdiri atas rongga toraks, otot interkostal, diafragma, dan
komponen elastis jaringan paru. Sistem respirasi atau pernapasan biasanya
dibagi menjadi struktur saluran nafas atas dan bawah. Secara fungsional,
struktur-struktur tersebut membentuk bagian konduksi sistem, yang terdiri atas
rongga hidung, nasofaring, larink, trakea, bronki (yun. Bronchos, pipa angin),
bronkiolus, dan bronkiolus terminalis, dan bagian respiratorik (tempat berlangsungnya pertukaran gas), yang terdiri
atas bronkiolus respiratorius, ductus alveolaris, dan alveoli. Alveoli
merupakan struktur mirip kantong yang membentuk sejumlah besar bagian paru. Alveoli
adalah tempat utama bagi fungsi utama
paru pertukaran O2 dan CO2 antara udara yang dihirup dan
darah (Luis, 2007).
Bagian konduksi memiliki dua fungsi utama yaitu
menyediakan sarana bagi udara yang keluar masuk paru dan mengkondisikan udara
yang dihirup tersebut. Untuk menjamin kelangsungan pasokan udaraa yang kontinu,
kombinasi tulang rawan, serat elastin, dan kolagen, dan otot polos, memberikan
bagian konduksi ini sifat kaku dan fleksibilitas serta ekstensibilitas yang
diperlukan (Yatim, 1990).
1.2 Tujuan
Tujuan
dalam melaksanakan praktikum ini adalah mengetahui struktur histologi trakea
dan paru-paru.
1.3 Manfaat
Manfaat
setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi
mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem respirasi seperti
jaringan penyusun trakea serta paru-paru dan dapat dimanfaatkan dalam riset
mengenai patohistologi.
BAB II
HASIL DAN
PEMBAHASAN
2.1 Trakea

(a)
(b)
(c)
Gambar 2.1.1 (a) Trakea
(Ramania, 2012).
(b) Trakea
(c) Trakea
hasil pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat trakea perbesaran 40X terlihat adanya
bagian-bagian trakea seperti mukosa yang terdiri dari epitel silindris semu
bersilia dan lamina proparia, sub mukosa, kartilago dan perikondrium. Permukaan
trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada lamina
propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana ujung
bebasnya berada di bagian posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan oleh
sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan
silia untuk mendorong partikel asing. Sedangkan
tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada
ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda
tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang
memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi berlebihan (Kuehnel, 2003).
Trakea adalah saluran pendek (10-12 cm
panjangnya) dengan diameter sekir 2 cm. Trakea dilapisi oleh epitel respirasi.
Sejumlah sel-sel goblet terdapat di
antara sel-sel epitelnya, dan jumlah
tergantung ada tidaknya iritasi kimia atau fisika dari epitelium ( yang dapat
meningkatkan jumlah sel goblet). Iritasi
yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat mengubah tipe sel dari tipe sel epitel
berlapis pipih menjadi metaplasia. Pada
lapisan epitel terdapat sel brush, sel endokrin (sel granul kecil ), sel klara (sel penghasil surfaktan) dan sel
serous (Mescher,
2011).
Lapisan-lapisan pada trakea meliputi lapisan
mukosa, lapisan submukosa dan lapisan
tulang rawan trakeal dan lapisan adventitia.
Lapisan mukosa meliputi lapisan sel-sel epitel respirasi dan lamina
propria. Lamina proprianya banyak
mengandung jaringan ikat longgar dengan banyak serabut elastik, yang selanjutnya membentuk membran elastik
yang menghubungkan lapisan mukosa dan submukosa. Pada submukosa terdapat kelenjar muko-serous
yang mensekresikan sekretnya menuju sel-sel epitel. Lapisan adventitia terdiri
dari jaringan ikat fibrous. Trakea bercabang dua yaitu dua bronkus utama (Mescher, 2011).
2.2 Lug
(a) (b)
(c)
Gambar
2.2.1 (a) Lung (Rutger, 2014).
(b) Lung
(c) Lung hasil
pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preprat lung atau paru-paru pada perbesaran 400X terlihat
adanya bagian-bagian lung seperti bronkiolus, blood vessels, lumen, epitel,
kartolago, duct alveoli dan sac alveoli. Paru-paru dibungkus oleh dua lapis selaput paru-paru
yang disebut pleura. Semakin ke
dalam, di dalam paru-paru akan ditemui gelembung halus kecil yang disebut alveolus. Jumlah alveolus pada
paru-paru kurang lebih 300 juta buah. Adanya alveolus ini menjadikan permukaan
paru-paru lebih luas. Diperkirakan, luas permukaan paruparu sekitar 160 m2.
Dengan kata lain, paru-paru memiliki luas permukaan sekitar 100 kali lebih luas
daripada luas permukaan tubuh (Santos, 2007).
Dinding
alveolus mengandung kapiler darah. Oksigen yang terdapat pada alveolus
berdifusi menembus dinding alveolus, lalu menem bus dinding kapiler darah yang
mengelilingi alveolus. Setelah itu, masuk ke dalam pembuluh darah dan diikat
oleh hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah sehingga terbentuk
oksihemoglobin (HbO2). Akhirnya, oksigen diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.
Setelah sampai ke dalam sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan sehingga
oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Oksigen ini digunakan untuk oksidasi
(Santos, 2007).
Karbon
dioksida yang dihasilkan dari respirasi sel diangkut oleh plasma darah melalui
pembuluh darah menuju ke paru-paru. Sesampai di alveolus, CO2 menembus dinding
pembuluh darah dan dinding alveolus. Dari alveolus, karbondioksida akan
disalurkan menuju hidung untuk dikeluarkan. Jadi proses pertukaran gas
sebenarnya berlangsung di alveolus.
Paru-paru
kanan memiliki 3 lobus (gelambir), sedangkan paru-paru kiri memiliki 2 lobus
(gelambir). Di dalam paru-paru ini terdapat alveolus yang berjumlah ±
300 juta buah. Bagian luar paru-paru dibungkus oleh selaput pleura untuk
melindungi paru-paru dari gesekan ketika bernapas, berlapis 2 dan berisi cairan
(Novi,
2002).
Stuktur
Pulmo berupa Unit fungsional dalam paru-paru disebut lobulus primerius yang
meliputi semua struktur mulai bronchiolus terminalis, bronchiolus
respiratorius, ductus alveolaris, atrium, saccus alveolaris, dan alveoli
bersama-sama dengan pembuluh darah, limfe, serabut syaraf, dan jarinmgan pengikat.
Lobulus di daerah perifer paru-paruberbentuk pyramidal atau kerucut didasar
perifer, sedangkan untuk mengisi celah-celah diantaranya terdapat lobuli
berbentuk tidak teratur dengan dasar menuju ke sentral. Cabang terakhir
bronchiolus dalamlobulus biasanya disebut bronchiolus terminalis. Kesatuan
paru-paru yang diurus oleh bronchiolus terminalis disebut acinus (Lesson,
1991).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Respirasi
(respiration) berarti suatu proses pembakaran (oksidasi) senyawa
organik (bahan makanan) di dalam sel sehingga diperoleh energi. Energi yang
dihasilkan dari respirasi sangat menunjang sekali untuk melakukan beberapa
aktifitas. Sistem respirasi manusia dapat berlangsung
berkat keberadaan alat-alat pernafasan. Alat pernafasan manusia terdiri dari
rongga hidung, faring, laring, trakea,
bronkus, dan paru-paru. Proses respirasi ada dua yaitu proses respiras
(pernapasan) dada dan proses respirasi (pernapasan) perut. Berdasarkan hasil
pengamatan yang dilakukan trakea memiliki bagian-bagian seperti mukosa
yang terdiri dari epitel silindris semu bersilia dan lamina proparia, sub
mukosa, kartilago dan perikondrium. Sedangkan pada paru-paru memiliki
bagian-bagian seperti bronkiolus, blood vessels, lumen, epitel, kartolago, duct
alveoli dan sac alveoli.
3.2
Saran
Disarankan
untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih
memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami
materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony
l.mescher. 2002. Histology dasar.
Jakarta: EGC.
Campbell,
dkk. 2004. Biologi edisi kelima jilid III.
Jakarta: Erlangga
Kuehnel.
2003. Color Atlas of Cytology, Histology, and
Microscopic Anatomy. 4th ed Stuttgart: Thieme.
Lesson
paparo,alih bahasa dr Jon Tambayon.1991.Buku
ajar Histologi. Buku penerbit
kedokteran EGC : Jakarta.
Luis, Carlos J.,
Jose, Carneiro. 2007. Histologi Dasar. Text & Atlas: EGC.
Mescher,
Anthony L. 2011. Histologi Dasar Junqueira Teks & Atlas Edisi 12. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Novi, Eurika.
2002. Petunjuk Praktikum Histologi. Jember: Universitas Muhammadiyah.
Ramania.2012.http://ramania-colorfullworld.blogspot.com/2012/09/histologi-leher.html.
Diakses tanggal 08 Mei 2014.
Rutger.2014.shttp://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/CorePages/Respiratory/respir.htm.
Diakses tanggal 08 Mei 2014.
Santos,
Marinilce F . 2007 . Basic of Histology . The McGraw-Hill Companies :
Brazil.
Yatim. Wildan. 1990. Histology. Bandung : Tarsito.
Histologi Sistem Saraf
LAPORAN
HISTOLOGI HEWAN
Sistem
Saraf
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Firda Agustina
LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Dasar Teori
Saraf adalah
bagian dari sistem saraf periferal. Saraf aferen membawa sinyal sensorik ke
sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa sinyal dari sistem saraf
pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar. Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson.Sel saraf yang
dinamakan pula sel neron berbeda dengan sel-sel dari jaringan dasar lainnya
karena adanya tonjolan-tonjolan yang panjang dari badan selnya. Semua jaringan
mencerminkan sejarahnya dengan memeperlihatkan berbagai kemampuannya untuk
penyesuaian dri pada keadaan baru selama hidup mereka. Jaringan saraf juga
menspesialisasikan diri dalam kemampuan sepeti ini, menuju kea rah fungsi
belajar dan ingat yang tidak begitu banyak dipahami. Meskipun banyak sifat khas
organissi pesarafan itu telah terprogram secara genetik, namun detail– detail
dari kontak–kontak seluler dan pembentukan sirkuit fungsional untuk popolasisel
tampaknya terpengaruh oleh keadaan yang biasanya terdapat apabila sel-selnya
memperoleh kontak mereka yang pertama (Gerrit, 1988).
Jaringan saraf terdiri atas tiga
unsur, unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel saraf, unsur putih serabut
saraf dan neuroglia, sejenis sel pendukung yang dijumpai hanya dalam sistem
saraf dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf. Setiap
sel saraf dengan prosesusnya (juluran) disebut neuron. Sel saraf terdiri atas
protoplasma yang berbulir khusus dengan nukleus besar dan dinding del seperti
pada sel lainnya. Berbagai juluran timbul sel saraf, juluran timbul darinsel
saraf, juluran ini mengantarkan ransangan saraf kepada dan dari sel saraf (Pearce,
2005).
Neuron sering disebut sebagai
aferen, atau sensorik, eferen, atau motorik, dan interneuron, yang bukan
bersifat sensorik maupun motorik tetapi menghubungkan neuron dengan neuron
lain. Neuron aferen dan eferen terletak sebagian besar di luar sistem saraf
pusat (otak dan saraf kabelnya) dalam sistem saraf perifer, sementara
interneuron, yang pada manusia adalah 99% dari semua neuron dalam tubuh,
terletak sepenuhnya dalam sistem saraf pusat. Neuron aferen yang terhubung ke
reseptor. Reseptro berfungsi untuk mengubah ransangan lingkungan eksternal dan
internal menjadi sinyal saraf, yang dilakukan oleh neuron aferen ke dalam
sistem saraf pusat. Disini sinyal dapat dianggap sebagai sensasi dasar. Sinyal
saraf juga pindah ke neuron eferen, yang membawa mereka melaui sistem saraf perifer ke efektor,
seperti otot atau kelenjar (Anson, 2006).
Sebuah
neuron atau sel saraf, mungkin menganggap banyak bentuk, tergantung pada fungsi
dan lokasi, jenis tipikal ditunujkkan dalam diagram. Dari sel tubuh berinti
memperpanjang proses sitoplasma dari dua jenis, satu atau lebih dendrit dalam
semua tetapi neuron sederhana, dan akson tunggal. Seperti nama dendrit
menunjukkan, proses ini seringkali deras bercabang. Mereka, dan seluruh
permukaan tubuh sel, adalah aparat reseptif sel saraf, sering mencari informasi
dari beberapa sumber yang berbeda sekaligus. Beberapa masukan ini ransang,
menyebabkan sinyal yang akan dihasilkan dan disebabkan, dan lainnya adalah
penghambatan, membuat generasi sinyal dan propagasi kecil kemungkinannya
(Anson, 2006).
Apabila
jaringan dilihat dibawah mikroskop, terlihat bahwa jaringan saraf tersusun atas
neuron dan neuroglia. Neuron merupakan jaringan dasar sistem saraf. Bentuk yang
paling besar merupakan badan sel. Mempunyai ukuran yang bervariasi sesuai
posisi sel dan fungsinya. Setiap sel memiliki bentuk nukleus yang tetap dan protoplasmanya
bergranula. Sel-sel membentuk badan abu-abu otak dan medula spinalis. Sel-sel
tersebut mengalami beberapa proses. Dendrit merupakan percabangan pendek tempat
impuls saraf masuk ke dalam sel dan akson (silinder aksis) merupakan serat
tunggal tempat impuls keluar dari sel. Panjang akson bervariasi dari beberapa
milimeter sampai beberapa sentimeter dan menghubungkan sel ke bagian ujung.
Serabut saraf membentuk badan putih pada otak dan medula spinalis (Watson, 2002).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan
dari praktikum ini adalah untuk melihat struktur histologi cerebelum dan medula
spinalis.
1.3 Manfaat
Manfaat setelah melaksanakan
praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi mempelajari peran dan
struktur jaringan penyusun sistem saraf seperti jaringan penyusun cerebelum serta medula spinalis dan dapat
dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.
BAB II
HASIL DAN
PEMBAHASAN
2.1 Cerebelum
(a)
(b)
(c)
Gambar
2.1.1 (a) Cerebelum (Noorhayati, 2006).
(b) Cerebelum
(c) Cerebelum hasil
pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang cerebelum pada perbesaran
100X terlihat adanya molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje
cell. Serebelum terletak tepat di bawah bagian posterior
otak besar. Serebelum merupakan pusat keseimbangan gerak, koordinasi gerak
otot, serta posisi tubuh.Tepat di bagian bawah serebelum terdapat jembatan
Varol.
Pada
cerebelum (otak kecil) substansia grisea serebeli terdapat di permukaan berupa
korteks tipis di atas substansia alba yang terdapat di tengah, tetapi di bagian
tengah serebellum terdapat juga kelompok-kelompok kecil sel-sel syaraf.
Potongan melalui korteks serebeli memperlihatkan 3lapisanyaitu : lapisan terluar
adalah lapisan tipis molekular terdiri atas sedikit sel saraf kecil dan banyak
serat saraf tanpa mielin. Lapisan tengah terdiri atas selapis sel-sel besar
(selPurkinje). Paling dalam adalah lapis granular terdiri atas banyak badan sel
saraf kecil-kecil. Dikorteks terdapat pula ujung-ujung serat mossy dan
serat-serat yang naik, yang masuk korteks serebeli dari substansia alba batang
otak dan medula spinalis. Serat-serat mossy itu tebal dan bersinapsis pada
sel-sel lapis granular. Serat-serat yang naik melintasi lapis granular dan
berakhir pada sel-sel purkinje. Secara fungsional serebelum itu berhubungan
dengan gerakanotot rangka, berhubungan dengan koordinasi , sikap tubuh dan
keseimbangan (Luis, 2007).
2.2 Medula Spinalis
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.2.1 (a)
Medula spinalis (Eroschenko, 2010).
(b) Medula spinalis
(c) Medula spinalis
hasil pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang medula spinalis pada
perbesaran 100X terlihat adanya bagian-bagian medula spinalis seperti white
matter, grey matter dan central cancil. Pada perbesaran 400X terlihat
bagian-bagian seperi sel saraf dan neuroglia.
Pada
semua tingkatan pada bagian tengah potongan melintang, terlihat suatu daerah
berbentuk H yang merupakan substansia grisea terdiri atas sel-sel saraf. Badan
sel saraf terletak pada berkelompok di dalam substansia grisea, neuron motorik
yang besar-besar terdapat di kornus anterior. Subtansia alba, terbentuk dari
serat-serat saraf, mengelilingi substansia grisea dan terbagi atas jalur-jalur
memenjang (funikuli). Sel-sel saraf pada subtansia grisea bersifat multipolar.
Akson-akson yang berasal dari beberapa diantaranya meninggalkan medula sebagai
serat-serat akar ventralis, yang lain menyalurkan aksonnya kedalam substansia;
yang lain lagi memiliki akson-akson pendek yang berakhir pada neuron-neuron
dekat asalnya, terbatas pada substansia grisea. Substansia alba pada umumnya
tidak mengandung badan-badan sel saraf atau dendrit-dendrit dan terbentuk oleh
serat-serat saraf bermielin dan tidak bermielin. Pada permukaan medula terdapat
daerah marginal sempit yang hanya diisi sel-sel glia (neuroglia) (Strete, 1995).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Jaringan
syaraf merupakan jaringan yang terspesialisasi mampu bereaksi terhadap stimuli
dan mengantarkannya dari bagian tubuh yang satu ke bagian tubuh yang lain. Secara
anatomi, sistem syaraf di bagi atas sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang
belakang) dan sistem syaraf tepi (serabut syaraf dan gangglion). Secara
struktural jaringan syaraf tersusun atas sel syaraf (neuron)dan sel-sel glia
(neuroglia). Berdasarkan hasil pengamatan dari sistem saraf, cerebelum memiliki
bagian-bagian seperti molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje
cell. Sedangkan pada medula spinalis memiliki bagian-bagian seperti white
matter, grey matter dan central cancil, sel saraf dan neuroglia.
3.2 Saran
Disarankan
untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih
memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami
materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Anson, dkk. Zoology.
San Fransisco California: Thirteenth Edition, 2006.
Eroschenko, V. 2010.
diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. Jakarta: EGC
Gerrit, Bevelander. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga, 1998.
Luis, Carlos, Junquiera., Jose, Carneiro. 2007.HISTOLOGI DASAR .Text & Atlas:
EGC.
Pearce, Evelyn. Anatomi
dan Fisiologi. Jakarta: Gramedia, 2005.
Strete,
Dennis PH.D.1995. A Color Atlas of
Histology 1st edition. New York: Library of Congress.
Watson, Roger. Anatomi
dann Fisiologi. Jakarta: EGC, 2002.
Langganan:
Postingan (Atom)