BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Dasar Teori
Sistem urinaria merupakan sistem yang
penting untuk membuang sisa-sisa metabolisme makanan yang dihasilkan oleh tubuh
terutama senyawaan nitrogen seperti urea dan kreatinin, bahan asing dan produk
sisanya. Sistem urinaria terdiri atas: kedua ginjal (ren, kidney), ureter,
kandung kemih (vesika urinaria/urinary bladder/ nier) dan uretra. Sampah
metabolisma ini dikeluarkan (disekresikan) oleh ginjal dalam bentuk urin. Urin
adalah jalur utama ekskresi sebagian besar toksikan. Akibatnya, ginjal
mempunyai volume aliran darah yang tinggi, mengkonsentrasi toksikanpada
filtrate membawa toksikan melalui tubulus, dan mengaktifkan toksikan tertentu.
Karenanya, ginjal adalah organ sasaran utama dari efek toksik. Urin kemudian akan
turun melewati ureter menuju kandung kemih untuk disimpan sementara dan
akhirnya secara periodik akan dikeluarkan melalui uretra. Bagian – bagian
sistem urinaria antara lain ginjal, ureter, kandung kemih (vesika
urinaria/urinary bladder/ nier, uretra (Bevelander, 1988).
Sistem
endokrin merupakan sistem yang mencakup aktivitas beberapa kelenjar yang
mengatur dan mengendalikan aktivitas struktur tubuh, baik sel, jaringan, maupun
organ. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus
sehingga sekrit langsung bermuara ke dalam pembuluh darah (disebut kelenjar
buntu). Sekrit kelenjar endokrin adalah hormon yang berfungsi mengatur proses
homeostatis, reproduksi, metabolisme dan tingkah laku pada tubuh makhluk hidup
(Wildan, 1996).
Hormon memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Wildan, 1996):
1. Diproduksi dan disekresikan ke
dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah yang sangat sedikit.
2. Diangkut oleh darah menuju ke
sel/jaringan target.
3. Mengadakan interaksi dengan
reseptor khusus yang terdapat di sel target.
4. Mempunyai pengaruh mengaktifkan
enzim khusus.
5. Mempunyai pengaruh tidak hanya
terhadap satu sel target tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target
yang berlainan.
System
endokrin dalam kaitannya dengan system saraf, mengontrol dan memadukan fungsi
tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis
tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan
dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise
posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan
atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh
sistem saraf (Bevelander,
1988).
Kelenjar endokrin juga merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran
keluar (duktus excretorius) produknya disebut hormon, langsung masuk kedalam
aliran darah, dan akan mempengaruhi pertumbuhan,metabolisme,reproduksi dll. Organ utama dari system endokrin adalah Hypothalamus, Kelenjar
hipofisa, Kelenjar tyroid, Kelenjar parathyroid, Pulau-pulau pancreas, Kelenjar adrenal dan Gonad (Bevelander,
1988).
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus
dan hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung
oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem persarafan dengan sistem endokrin.
Dalam berespons terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormon dalam
dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising dan
inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan dan sekresi hormon
hipofise
(Santos, 2007).
1.2 Tujuan
Tujuan dalam melaksanakan praktikum
ini adalah mengetahui struktur histologi ginjal, kelenjar adrenal dan kelenjar tiroid.
1.3 Manfaat
Manfaat
setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi
mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem urin seperti jaringan
penyusun ginjal serta jaringan penyusun sistem endokrin seperti adrenal dan
tiroid, dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.
BAB II
HASIL DAN
PEMBAHASAN
2.1 Ginjal
|
|
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.1.1 (a)
Ginjal (Nerdyna, 2013)
(b) Ginjal foto
pengamatan
(c) Ginjal hasil pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat
ginjal dengan perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian ginjal seperti kapsula
bowman, glomerolus, tubulus distal, tuktus proximal, brush, urinary pole dan
vasiculary pole. Ginjal berbentuk seperti kacang merah dengan panjang 10-12 cm
dan tebal 3,5-5 cm, terletak di ruang belakang selaput perut tubuh
(retroperitonium) sebelah atas. Ginjal kanan terletak lebih ke bawah
dibandingkan ginjal kiri. Ginjal dibungkus oleh simpai jaringan fibrosa yang
tipis. Pada sisi medial terdapat cekungan, dikenal sebagai hilus, yang
merupakan tempat keluar masuk pembuluh darah dan keluarnya ureter. Bagian
ureter atas melebar dan mengisi hilus ginjal, dikenal sebagai piala ginjal
(pelvis renalis). Pelvis renalis akan terbagi lagi menjadi mangkuk besar dan
kecil yang disebut kaliks mayor (2 buah) dan kaliks minor (8-12 buah). Setiap
kaliks minor meliputi tonjolan jaringan ginjal berbentuk kerucut yang disebut
papila ginjal. Pada potongan vertikal ginjal tampak bahwa tiap papila merupakan
puncak daerah piramid yang meluas dari hilus menuju ke kapsula. Pada papila ini
bermuara 10-25 buah duktus koligens. Satu piramid dengan bagian korteks yang
melingkupinya dianggap sebagai satu lobus ginjal (Hurkat, 1976).
Secara
histologi ginjal terbungkus dalam kapsul atau simpai jaringan lemak dan simpai
jaringan ikat kolagen. Organ ini terdiri atas bagian korteks dan medula yang
satu sama lain tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus, ada bagian medula
yang masuk ke korteks dan ada bagian korteks yang masuk ke medula.
Bangunan-bangunan yang terdapat pada korteks dan medula ginjal adalah Korteks
ginjal terdiri atas beberapa bangunan yaitu: Korpus Malphigi terdiri atas
kapsula Bowman (bangunan berbentuk cangkir) dan glomerulus (jumbai /gulungan
kapiler). Bagian sistim tubulus yaitu tubulus kontortus proksimalis dan tubulus
kontortus distal. Medula ginjal terdiri atas beberapa bangunan yang merupakan
bagian sistim tubulus yaitu pars descendens dan descendens ansa Henle, bagian
tipis ansa Henle, duktus ekskretorius (duktus koligens) dan duktus papilaris
Bellini (Wildan, 1996).
2.2 Kelenjar Adrenal
|
|
(a)
(b)
(c)
Gambar
2.2.1 (a) Kelenjar adrenal (Medicinesia, 2014)
(b) Kelenjar adrenal
foto pengamatan
(c) Kelenjar adrenal
hasil pengamatan
Berdasarkan
hasil penamatan pada preparat kelenjar adrenal dengan perbesaran 40X terlihat
adanya bagian-bagian kelenjar adrenal seperti kortek, medula, zona fasiculata,
zona intermedia, zona glomerolus dan zona reticularis. Korteks adrenal menghasilkan
beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen
adrenal. Kelainan pada kelenjar adrenal menyebabkan endokrinopati yang klasik
seperti sindroma Cushing, penyakit Addison, hiperaldosteronisme dan sindroma
pada hiperplasia adrenal kongenital. Kemajuan dalam prosedur diagnosis telah
memudahkan evaluasi kelainan adrenokortikal, terutama penentuan plasma
glukokortikoid, androgen dan ACTH telah memungkinkan diagnosis yang lebih cepat
dan tepat . Saat ini kemajuan pengobatan kedokteran telah dapat memperbaiki
nasib sebagian besar penderita dengan kelainan ini (Luis, 2007).
Menurut
Edwar (2001) Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat
dibedakan antara lain: Lapisan luar zona
glomerulosa, merupakan tempat dihasilkannya mineralokorticoid (aldosterone), ysng terutama diatur oleh
angiotensin II, kalium , dan ACTH. Juga dipengaruhi oleh dopamine, atrial
natriuretic peptide (ANP) dan
neuropeptides. Zona fasciculata pada lapisan tengah, dengan tugas utama sintesis
glukokortikoid, terutama diatur oleh ACTH. Juga dipengaruhi oleh beberapa
sitokin (IL-1, IL-6, TNF) dan neuropeptida. Lapisan terdalam zona
reticularis, tempat sekresi androgen adrenal (terutama
dehydroepiandrostenedion [DHEA], DHEA sulfa t dan androstenedion) juga glukokortikoid (kortisol
and corticosteron).
Menurut Gabriel (1992) terdapat kelenjar adrenal, yang masing-masing terletak
diatas ginjal dan menghasilkan sejumlah hormon: Bagian dalam (medula)
menghasilkan epinefrin dan norepinefrin, yang bertanggungjawab pada reaksi
fight-or-flight terhadap keadaan bahaya dan stres emosional Bagian luar
(korteks) menghasilkan: aldosteron yang mengatur keseimbangan garam dalam tubuh.
kortisol, penting untuk mengolah protein, lemak dan karbohidrat. Androgen
(hormon seksual pria).
2.3 Kelenjar Tiroid
|
|
(a)
(b)
![]() |
(c)
Gambar 2.3.1 (a)
Kelenjar tiroid (Medicinesia,
2014).
(b) Kelenjar tiroid
foto pengamatan
(c) Kelenjar tiroid
hasil pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat kelenjar tiroid dengan perbesaran 400X terlihat
adanya bagian-bagian kelenjar tiroid seperti epitel, koloid, arteri, kapilaris,
sel parofolikular, sel epitel kuboid, vakuola resorpsi dan space artefact. Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar
endokrin terbesar pada tubuh manusia.
Kelenjar ini dapat ditemui di leher. Kelenjar ini berfungsi untuk mengatur
kecepatan tubuh membakar energi, membuat protein dan mengatur kesensitifan
tubuh terhadap hormon lainnya. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar
terbesar, yang normalnya memiliki berat 15 sampai 20 gram. Tiroid
mengsekresikan tiga macam hormon, yaitu tiroksin (T4), triiodotironin
(T3), dan kalsitonin (Kuehnel, 2003).
Kelenjar
tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat vascular.
Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra
cervicalis sampai vertebra thorakalis. Kelenjar ini terselubungi lapisan
pretracheal dari fascia cervicalis dan terdiri atas 2 lobus, lobus dextra dan
sinistra, yang dihubungkan oleh isthmus. Beratnya kira-kira 25 gram tetapi bervariasi pada tiap individu (Ranisa,
2010).
Tiroid
merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher,
tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus,
sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu. Dalam keadaan
normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila
membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak
dibawah atau di samping jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon
tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid
mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara: Merangsang hampir
setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein dan Meningkatkan jumlah oksigen
yang digunakan oleh sel (Kay, 1998).
Secara anatomi, tiroid merupakan
kelenjar endokrin (tidak mempunyai ductus) dan bilobular (kanan dan kiri),
dihubungkan oleh isthmus (jembatan) yang terletak di depan trachea tepat
di bawah cartilago cricoidea. Kadang juga terdapat lobus tambahan yang
membentang ke atas (ventral tubuh), yaitu lobus piramida (Syarifuddin,
2006).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sistem urin yang
diamati adalah bagian ginjal yang memiliki
bagian-bagian seperti kapsula bowman, glomerolus, tubulus distal, tuktus
proximal, brush, urinary pole dan vasiculary pole. Sedangkan pada sistem
endokrin yang diamati adalah kelenjar adrenalin dan kelenjar tiroid. Kelenjar
adrenalin memiliki bagian-bagian seperti kortek, medula, zona fasiculata, zona
intermedia, zona glomerolus dan zona reticularis dan kelenjar tiroid memiliki
bagian-bagian seperti epitel, koloid, arteri, kapilaris, sel parofolikular, sel
epitel kuboid, vakuola resorpsi dan space artefact.
3.2 Saran
Disarankan untuk
praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih
memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami
materi yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan
dan Pagarra, Halifah. 2010. Struktur
Hewan. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM.
FMIPA UNM.
Andre . 2009.
biologi pertanian. Jakarta: Penerbit Rajawali Press.
Bevelander,
Gerrit. 1988. Dasar–Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Edwar. 2001,.Biologi umum.Bandung: penerbit iter
plus.
Gabriel.
1992.Sains
biologi. bandung :penerbit ganeca exact.
Hurkat, P.
and Mathur. 1976., A Text Book of Animal
Physiology. S Chand and Co. Ltd., New Delhi.
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher
United,
New York.
Kuehnel.
2003. Color
Atlas of Cytology, Histology, and
Microscopic Anatomy. 4th ed Stuttgart: Thieme
Luis, Carlos ,Junquiera., Jose, Carneiro. 2007.Histologi Dasar : Text & Atlas.EGC
Minarno. 2009. Mikroskop Sel. Banjar Baru : penerbit
FK.unlam.
Medicinesia.2014.http://www/kedokteran-dasar/metabolik-endokrin/aspek-anatomi-dan- histologi-kelenjar-endokrin/. Diakses tanggal
11 Mei 2014.
Neil, A.
Camppbell dkk. 2003. Biologi.
Erlangga : Jakarta.
Syarifuddin.
2006. Anatomi Fisiologi. Jakarta:
Buku Kedokteran.
Syamsuri.
1998.Biologi Umum Untuk Perguruan Tinggi
. surabaya : Penerbit Binaan Pustaka Tama.
Santos,
Marinilce F . 2007 . Basic of Histology . The McGraw-Hill Companies :
Brazil.
Wildan,
Yatim. 1996. Biologi Modern Histologi.
Tarsito: Bandung.
LAPORAN
HISTOLOGI HEWAN
Sistem
Urin dan Endokrin

Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Eka Putri D.P.
LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2014







Tidak ada komentar:
Posting Komentar