Kamis, 05 Juni 2014

histologi Sistem urin dan endokrin



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori
     Sistem urinaria merupakan sistem yang penting untuk membuang sisa-sisa metabolisme makanan yang dihasilkan oleh tubuh terutama senyawaan nitrogen seperti urea dan kreatinin, bahan asing dan produk sisanya. Sistem urinaria terdiri atas: kedua ginjal (ren, kidney), ureter, kandung kemih (vesika urinaria/urinary bladder/ nier) dan uretra. Sampah metabolisma ini dikeluarkan (disekresikan) oleh ginjal dalam bentuk urin. Urin adalah jalur utama ekskresi sebagian besar toksikan. Akibatnya, ginjal mempunyai volume aliran darah yang tinggi, mengkonsentrasi toksikanpada filtrate membawa toksikan melalui tubulus, dan mengaktifkan toksikan tertentu. Karenanya, ginjal adalah organ sasaran utama dari efek toksik. Urin kemudian akan turun melewati ureter menuju kandung kemih untuk disimpan sementara dan akhirnya secara periodik akan dikeluarkan melalui uretra. Bagian – bagian sistem urinaria antara lain ginjal, ureter, kandung kemih (vesika urinaria/urinary bladder/ nier, uretra (Bevelander, 1988).
Sistem endokrin merupakan sistem yang mencakup aktivitas beberapa kelenjar yang mengatur dan mengendalikan aktivitas struktur tubuh, baik sel, jaringan, maupun organ. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus sehingga sekrit langsung bermuara ke dalam pembuluh darah (disebut kelenjar buntu). Sekrit kelenjar endokrin adalah hormon yang berfungsi mengatur proses homeostatis, reproduksi, metabolisme dan tingkah laku pada tubuh makhluk hidup (Wildan, 1996).
                 Hormon memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Wildan, 1996):
1. Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah yang sangat sedikit.
2. Diangkut oleh darah menuju ke sel/jaringan target.
3. Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat di sel target.
4. Mempunyai pengaruh mengaktifkan enzim khusus.
5. Mempunyai pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target yang berlainan.
System endokrin dalam kaitannya dengan system saraf, mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf (Bevelander, 1988).
Kelenjar endokrin juga merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran keluar (duktus excretorius) produknya disebut hormon, langsung masuk kedalam aliran darah, dan akan mempengaruhi pertumbuhan,metabolisme,reproduksi dll. Organ utama dari  system endokrin adalah Hypothalamus, Kelenjar hipofisa, Kelenjar tyroid, Kelenjar parathyroid, Pulau-pulau pancreas, Kelenjar adrenal dan Gonad (Bevelander, 1988).
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem persarafan dengan sistem endokrin. Dalam berespons terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormon dalam dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan dan sekresi hormon hipofise (Santos, 2007).


1.2 Tujuan
Tujuan dalam melaksanakan praktikum ini adalah mengetahui struktur histologi ginjal, kelenjar adrenal dan kelenjar tiroid.

1.3 Manfaat
     Manfaat setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem urin seperti jaringan penyusun ginjal serta jaringan penyusun sistem endokrin seperti adrenal dan tiroid, dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.























BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
    
2.1 Ginjal
 
 
                                                                    






                               (a)                                                                 (b)
 







                                                                  (c)
Gambar 2.1.1 (a) Ginjal (Nerdyna, 2013)
                       (b) Ginjal foto pengamatan
                       (c) Ginjal hasil pengamatan
     Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat ginjal dengan perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian ginjal seperti kapsula bowman, glomerolus, tubulus distal, tuktus proximal, brush, urinary pole dan vasiculary pole. Ginjal berbentuk seperti kacang merah dengan panjang 10-12 cm dan tebal 3,5-5 cm, terletak di ruang belakang selaput perut tubuh (retroperitonium) sebelah atas. Ginjal kanan terletak lebih ke bawah dibandingkan ginjal kiri. Ginjal dibungkus oleh simpai jaringan fibrosa yang tipis. Pada sisi medial terdapat cekungan, dikenal sebagai hilus, yang merupakan tempat keluar masuk pembuluh darah dan keluarnya ureter. Bagian ureter atas melebar dan mengisi hilus ginjal, dikenal sebagai piala ginjal (pelvis renalis). Pelvis renalis akan terbagi lagi menjadi mangkuk besar dan kecil yang disebut kaliks mayor (2 buah) dan kaliks minor (8-12 buah). Setiap kaliks minor meliputi tonjolan jaringan ginjal berbentuk kerucut yang disebut papila ginjal. Pada potongan vertikal ginjal tampak bahwa tiap papila merupakan puncak daerah piramid yang meluas dari hilus menuju ke kapsula. Pada papila ini bermuara 10-25 buah duktus koligens. Satu piramid dengan bagian korteks yang melingkupinya dianggap sebagai satu lobus ginjal (Hurkat, 1976).
     Secara histologi ginjal terbungkus dalam kapsul atau simpai jaringan lemak dan simpai jaringan ikat kolagen. Organ ini terdiri atas bagian korteks dan medula yang satu sama lain tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus, ada bagian medula yang masuk ke korteks dan ada bagian korteks yang masuk ke medula. Bangunan-bangunan yang terdapat pada korteks dan medula ginjal adalah Korteks ginjal terdiri atas beberapa bangunan yaitu: Korpus Malphigi terdiri atas kapsula Bowman (bangunan berbentuk cangkir) dan glomerulus (jumbai /gulungan kapiler). Bagian sistim tubulus yaitu tubulus kontortus proksimalis dan tubulus kontortus distal. Medula ginjal terdiri atas beberapa bangunan yang merupakan bagian sistim tubulus yaitu pars descendens dan descendens ansa Henle, bagian tipis ansa Henle, duktus ekskretorius (duktus koligens) dan duktus papilaris Bellini (Wildan, 1996).

2.2 Kelenjar Adrenal
 
 
                                                                           







                              (a)                                                            (b)







                                                               
                                                                 (c)
Gambar 2.2.1 (a) Kelenjar adrenal (Medicinesia, 2014)
                       (b) Kelenjar adrenal foto pengamatan
                       (c) Kelenjar adrenal hasil pengamatan

Berdasarkan hasil penamatan pada preparat kelenjar adrenal dengan perbesaran 40X terlihat adanya bagian-bagian kelenjar adrenal seperti kortek, medula, zona fasiculata, zona intermedia, zona glomerolus dan zona reticularis. Korteks adrenal menghasilkan beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen adrenal. Kelainan pada kelenjar adrenal menyebabkan endokrinopati yang klasik seperti sindroma Cushing, penyakit Addison, hiperaldosteronisme dan sindroma pada hiperplasia adrenal kongenital. Kemajuan dalam prosedur diagnosis telah memudahkan evaluasi kelainan adrenokortikal, terutama penentuan plasma glukokortikoid, androgen dan ACTH telah memungkinkan diagnosis yang lebih cepat dan tepat . Saat ini kemajuan pengobatan kedokteran telah dapat memperbaiki nasib sebagian besar penderita dengan kelainan ini (Luis, 2007).      
     Menurut Edwar (2001) Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat dibedakan antara lain:  Lapisan luar zona glomerulosa, merupakan tempat dihasilkannya mineralokorticoid  (aldosterone), ysng terutama diatur oleh angiotensin II, kalium , dan ACTH. Juga dipengaruhi oleh dopamine, atrial natriuretic  peptide (ANP) dan neuropeptides. Zona fasciculata pada lapisan tengah, dengan tugas utama sintesis glukokortikoid, terutama diatur oleh ACTH. Juga dipengaruhi oleh beberapa sitokin (IL-1, IL-6, TNF) dan neuropeptida. Lapisan terdalam zona reticularis, tempat sekresi androgen adrenal (terutama dehydroepiandrostenedion [DHEA], DHEA sulfa t dan  androstenedion) juga glukokortikoid (kortisol and corticosteron).
 Menurut Gabriel (1992) terdapat  kelenjar adrenal, yang masing-masing terletak diatas ginjal dan menghasilkan sejumlah hormon: Bagian dalam (medula) menghasilkan epinefrin dan norepinefrin, yang bertanggungjawab pada reaksi fight-or-flight terhadap keadaan bahaya dan stres emosional Bagian luar (korteks) menghasilkan: aldosteron yang mengatur keseimbangan garam dalam tubuh. kortisol, penting untuk mengolah protein, lemak dan karbohidrat. Androgen (hormon seksual pria).

2.3 Kelenjar Tiroid
 
 
                                                                      







                              (a)                                                                 (b)




 








                                                                           (c)
Gambar 2.3.1 (a) Kelenjar tiroid (Medicinesia, 2014).
                        (b) Kelenjar tiroid foto pengamatan
                        (c) Kelenjar tiroid hasil pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat kelenjar tiroid dengan perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian kelenjar tiroid seperti epitel, koloid, arteri, kapilaris, sel parofolikular, sel epitel kuboid, vakuola resorpsi dan space artefact. Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar endokrin  terbesar pada tubuh manusia. Kelenjar ini dapat ditemui di leher. Kelenjar ini berfungsi untuk mengatur kecepatan tubuh membakar energi, membuat protein dan mengatur kesensitifan tubuh terhadap hormon lainnya. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar terbesar, yang normalnya memiliki berat 15 sampai 20 gram. Tiroid mengsekresikan tiga macam hormon, yaitu tiroksin (T4), triiodotironin (T3), dan kalsitonin (Kuehnel, 2003).
     Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra cervicalis sampai vertebra thorakalis. Kelenjar ini terselubungi lapisan pretracheal dari fascia cervicalis dan terdiri atas 2 lobus, lobus dextra dan sinistra, yang dihubungkan oleh isthmus. Beratnya kira-kira  25 gram tetapi bervariasi pada tiap individu (Ranisa, 2010).
     Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara: Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein dan Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel (Kay, 1998).
     Secara anatomi, tiroid merupakan kelenjar endokrin (tidak mempunyai ductus) dan bilobular (kanan dan kiri), dihubungkan oleh isthmus (jembatan) yang terletak di depan trachea tepat di bawah cartilago cricoidea. Kadang juga terdapat lobus tambahan yang membentang ke atas (ventral tubuh), yaitu lobus piramida (Syarifuddin, 2006).


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sistem urin yang diamati adalah bagian ginjal yang memiliki bagian-bagian seperti kapsula bowman, glomerolus, tubulus distal, tuktus proximal, brush, urinary pole dan vasiculary pole. Sedangkan pada sistem endokrin yang diamati adalah kelenjar adrenalin dan kelenjar tiroid. Kelenjar adrenalin memiliki bagian-bagian seperti kortek, medula, zona fasiculata, zona intermedia, zona glomerolus dan zona reticularis dan kelenjar tiroid memiliki bagian-bagian seperti epitel, koloid, arteri, kapilaris, sel parofolikular, sel epitel kuboid, vakuola resorpsi dan space artefact.

3.2 Saran
Disarankan untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan.

















DAFTAR PUSTAKA

Adnan dan Pagarra, Halifah. 2010. Struktur Hewan. Makassar: Jurusan Biologi
    FMIPA UNM.
Andre . 2009. biologi pertanian. Jakarta:  Penerbit Rajawali Press.
Bevelander, Gerrit. 1988. Dasar–Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Edwar. 2001,.Biologi umum.Bandung: penerbit iter plus.
Gabriel. 1992.Sains biologi. bandung :penerbit ganeca exact.
Hurkat, P. and Mathur. 1976., A Text Book of Animal Physiology. S Chand and Co. Ltd., New Delhi.
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher United,
       New York.
Kuehnel. 2003. Color Atlas of Cytology, Histology, and Microscopic Anatomy. 4th ed Stuttgart: Thieme
Luis, Carlos ,Junquiera., Jose, Carneiro. 2007.Histologi  Dasar : Text & Atlas.EGC
Minarno. 2009. Mikroskop Sel. Banjar Baru : penerbit FK.unlam.
Medicinesia.2014.http://www/kedokteran-dasar/metabolik-endokrin/aspek-anatomi-dan-  histologi-kelenjar-endokrin/. Diakses tanggal 11 Mei 2014.
Neil, A. Camppbell dkk. 2003. Biologi. Erlangga : Jakarta.
Nerdyna. 2013. http://histologi ginjal. wordpress.com/2013/06/24. Diakses tanggal 11 Mei 2014.
Syarifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran.
Syamsuri. 1998.Biologi Umum Untuk Perguruan Tinggi . surabaya : Penerbit Binaan Pustaka Tama.
Santos, Marinilce F . 2007 . Basic of Histology . The McGraw-Hill Companies : Brazil.
Wildan, Yatim. 1996. Biologi Modern Histologi. Tarsito: Bandung.








LAPORAN HISTOLOGI HEWAN
Sistem Urin dan Endokrin






       
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Eka Putri D.P.
 

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar