Kamis, 05 Juni 2014

Histologi Sistem Genital



LAPORAN HISTOLOGI HEWAN
Sistem Genital Maskulin dan Feminin






       
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Novembya Vilansari
 

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori
Sistem genitalia merupakan alat reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Sistem genitalia dibedakan menjadi dua bagian yaitu genitalia maskulin dan genitalia feminin. Sistem genitalia maskulin terdiri atas testis, saluran, kelenjar dan bagian eksterna. Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang tebal (tunika albugenia) dan lapisan peritonium tunika vaginalis viseralis, yang berupa jaringan ikat kolagen yang miskin vasa darah dan elemen elastis. Tunika albugenia kaya akan vaskularisasi (stratum vaskuler). Testis, terdapat tubulus seminiferus yang dibungkus jaringan ikat halus (sel intertestial). Dinding tubulus seminiferus terdiri dari sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong disebut sel sustentakulum atau sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik dibagi menjadi beberapa berdasarkan morfologinya yaitu : spermatogonia, spermatosit primer dan sekunder, spermatid dan spermatozoa. Sel sertoli melekat pada lamina basalis dan sel spermatogenik dekat dengan lumen (Hurkat, 1976 ).
Sel sertoli berfugsi untuk melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang tampak mengalami mitosis, tetapi lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik. Spermatogonia terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Sel Interstitial atau sel leydig merupakan jaringan ikat halus yang membungkus testis, berisi serabut saraf. Fungsi sel leydig yaitu : mengatur aktivitas kelenjar prostat, memelihara tanda khas jantan dan mengatur aktivitas spermatogenesis yang dibantu oleh hormon FSH dan Hipofisis (Junqueira, 1995).
Saluran terdiri atas Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli Efferentes Testis, Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis). Tubuli rekti berupa saluran pendek pada lobuli testis dengan epitel kubus selapis pada membrana basalis. Rete testis berupa saluran atau rongga yang saling berhubungan dalam mediastinum testis, terdiri epitel pipih selapis dan pembuluh darah serta saraf. Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Sekreta dari sel berperan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis. Epididimis atau anak buah pelir, secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat tunika albuginea sebagai stroma dengan mengandung otot polos yang didalamnya terdapat saluran yang merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis. Fungsi epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa. Duktus Deferens berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar (Duktus deferens) dan bagian yang berkelenjar (Ampulla). Funikulus Spermatikus berbentuk buluh, dibalut oleh peritonium, didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan berkas otot polos.Uretra mempunyai ukuran yang cukup panjang, berdasarkan letaknya dibagi menjadi Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra pars penis (Adnan, 2006).
Kelenjar Asesorius (Glandula genitales asesorius) mempunyai ciri-ciri : Kelenjar bermuara pada uretra, bagian stroma (kapsula jaringan ikat interstitial, trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi dan Kelenjar berbentuk tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas, bagian ujung kelenjar yang meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta. Kelenjar asesorius dibagi menjadi empat yaitu : ampula, vesibulares, prostat dan bulbo uretralis. Bagian eksternal terdiri atas penis, prepusium dan skrotum. Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Prepusium terdiri atas dua bagian yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut : Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis. Skrotum terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elastis (Bresnick, 2003).
Alat reproduksi betina terdiri atas : ovarium, saluran dan ogan eksterna. Ovarium merupakan organ primer. Saluran terdiri atas tuba fallopii, uterus, serviks dan vagina. Alat kelamin luar terdipri atas vestibulum, labia-vulva dan klitoris. Ovari berjumlah sepasang yang terletak pada rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ovaria mempunyai kelenjar ganda, yakni : Kelenjar eksokrin yang menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon estrogen (folikel de graaf), progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum). Ovari tersusun atas kapsula yeng terdiri dari epitel silindris selapis dan tunika albugenia. Bagian korteks yang dari stroma kortikalis (jaringan ikat) dan bagian medula (Amenta,1990).
Saluran terdiri atas : Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus) yang berfungsi untuk menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus. Berdasarkan struktur morfologi dibagi menjadi infundibulum, fimbria, ampula dan istmus. Uterus (Rahim) terdiri dari endometrium atau disebut sebagai bagian dari mukosa dan submukosa, lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut Zona spongiosa. Karunkula (carunculae) merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Myometrium atau tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Servik merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Epithelnya silindris sebaris bersifat sekretoris menghasilkan lendir, dengan beberapa sel tampak memiliki silia (Dellman & Brown, 1989).
Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang ditutup oleh serosa, dan sisi lainnya terdapat dalam ruang pelvis ditutup oleh adentitia. Fungsi vagina adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung. Struktur histologi, mempunyai epithel pipih banyak lapis, pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel, lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa, tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang dan tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial (Bresnick, 2003).
Alat Kelamin Luar (Genitalia externa) terdiri atas Vestibulum, yang merupakan daerah perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina ditandai dengan adanya selaput dara (himen). Struktur histologi terdiri atas : Lamina epithelialis pipih berlapis banyak. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis, limponodulus banyak terdapat didalamnya. Glandula vestibularis minor, sub mukosa yang sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Tunika muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor vulvae. Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya. Labia berupa bibir dari vestibulum dengan komisura dorsalis dan ventralis. Klitoris secara anatomis terdiri atas : badan (Corpus klitoridis) dan kepala (Glans klitoridis) dan selubung (Preptium klitoridis) (Bavelander, 1988).


1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan memahami struktur histologi dari organ reproduksi baik jantan maupun betina.

1.3 Manfaat
       Manfaat setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem Genital Maskulin dan Feminin seperti jaringan penyusun epididimis, teatis, serta ovarium dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.


















BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Epididimis





 

 
 







                                
                                  (a)                                                                   (b)













                                                                     (c)
Gambar 2.1.1 (a) Epididimis (Betibops, 2014).
                        (b) Epididimis foto pengamatan                    
                         (c) Epididimis hasil pengamatan

     Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang epididimis pada perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian epididimis seperti stereocilia, epitel pseudostratified columnar ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina propia. Lumen epididymis hanya dilapisi oleh satu macam sel yaitu sel berambut silia yang tidak bergerak, karena silianya tidak bergerak maka sel-sel ini disebut stereo silia. (Sukra, 2000). Epididymis merupakan pipa panjang dan berkelak-kelok yang menghubungkan vasa eferensia pada testis dengan ductus deferens (vas deferens). Epidydimis berperan sebagai tempat untuk pemasakan spermatozoa sampai pada saat spermotozoa dikeluarkan dengan ejakulasi (Frandson,1992). Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat ductus deferens menuju ke kepala epididymis. Spermatozoa belum masak ketika meninggalkan testikel dan harus mengalami periode pemasakan di dalam epididymis sebelum mampu membuahi ovum. (Blakely dan David,1998). Menurut Wahyuni (2012) Epididymis merupakan saluran spermatozoa yang panjang dan berbelit, terbagi atas kaput, korpus, dan kauda epididimidis, melekat erat pada testis dan dipisahkan oleh tunika albugeni. Organ tersebut berperan penting pada proses absorpsi cairan yang berasal dari tubuli seminiferi testis, pematangan, penyimpanan dan penyaluran spermatozoa ke duktus deferens sebelum bergabung dengan plasma semen dan diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi betina.
     Epididymis mempunyai empat fungsi utama yaitu pengankutan atau transportasi, konsentrasi atau pengen talan maturasi dan penyimpanan spermatozoa. Pengankutan spermatozoa diangkut dari rete testis keductuli efferents testis oleh tekanan cairan didalam testis. Pengentalan spermatozoa dari suspense sperma encer yang berasal dari testis dengan konsentrasi 25.000 sampai 350.000 sel per mm3, air diresorbsi kedalam sel-sel epitel terutama pada caput. Pematangan spermatozoa mungkin dicapai atas pengaruh sekresi dari sel-sel epithel. Spermatozoa dari bagian cauda epididymis telah memiliki kemampuan membuahi oosit yang sama baiknya dengan spermatozoa hasil ejakulasi. Penyimpanan terjadi di cauda Epididymis. Konsentrasi spermatozoa sangat tinggi dan lumuen ductus tersebut relative lebih luas. Setengah dari jumlah spermatozoa disimpan didalam cauda yang membentuk seperempat dari panjang saluran epididymis. Waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan spermatozoa melalui epididymis bervariasi dan tergantung pada kondisinya tetapi mungkin tidak kurang dari 14 hari pada semua golongan hewan (Feradis,2010).

2.2 Testis


 







                                   

                                      
                                        (a)                                                                     (b)




 



                                                                     
                                                                          (c)      




                                                              (c)
Gambar 2.2.1 (a) Testis (Jamilatun, 2011).
                       (b) Testis foto pengamatan
                        (c) Testis hasil pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang testis pada perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian testis seperti tunika albuginia, sel leydig, lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel sertoli, spermatosit primer dan spermatosit sekunder.
Menurut (Feradis,2010). peningkatan umur berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan ukuran panjang. Terdapat hubungan positif (P<0,05) antara bobot badan dengan lingkar skrotum sebesar r = 0,58. Pertumbuhan bobot badan dan testis dipengaruhi oleh peranan hormon testosteron. Hormon testosteron dapat mempengaruhi pertambahan bobot badan karena hormon testosteron dapat menstimulasi sintesis protein otot dan hal ini dapat terjadi langsung dalam otot karena terdapat reseptor androgen Sperma dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (follicle stimulating hormone ) sedangkan testoteron diproduksi oleh sel-sel interstitioal dari leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial cell stimulating hormon). Menurut Blakely dan David (1998) Hormon testoteron sendiri dihasilkan oleh sel-sel leydig yang terdapat didalam jaringan pengikat diantara tubulus seminiferus.
     Di bawah kulit scrotum terdapat tunica dartos, suatu selubung yang terdiri dari jaringan fibroelastik dan otot licin. Di bagian tengah (sepanjang raphe scroti) membentuk septum scroti yang memisahkan scrotum dalam sebuah kantong yang terpisah. Lapisan berikutnya dalah tunica vaginalis communis suau fascia scrotalis tebal berwarna putih yang mengelilingi ke dau tengahan scrotum secara terpisah, dan di bagian tengah di selubungi oleh lapisan parietal, processus vaginalis, suatu evaginasi dari peritonium (Feradis,2010).
     Skrotum dengan otot–otot licinnya, lapisan fibrosa dan kulit berfungsi menunjang dan melindungi testes dan epididymis dan mempertahankan suhu yang lebih rendah daripada suhu badan yang diperlukan agar spermatogenesis berlangsung secara normal Suhu testes 5 sampai 6oc di bawah suhu badan. Terdapat mekanisme yang berbeda yang bekerja secara terpisah sehingga pengaturan suhu tersebut dapat berhasil. Suhu dingin, otot-otot cremaster dapat menarik scrotum sehingga suhu testes dapat dipertahankan hangat. Pada suhu panas otot tersebut mengendur dan testes turun menjauhi tubuh sehingga memungkinkan pelepasan panas hingga suhu testes menjadi lebih dingin. Otot lain yaitu tunica dartos yang mengelilingi kulit scrotum dapat mengerut atau mengendorkan permukaan scrotum dan hal ini akan memperluas permukaan scrotum sehingga mempengaruhi kecepatan hilangnya panas (Feradis,2010).

2.3 Ovarium


 










                                    (a)                                                                   (b)








                                                                             (c)
Gambar 2.2.1 (a) Ovarium (Bontocina, 2009).
                       (b) Ovarium foto pengamatan
                        (c) Ovarium hasil pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang ovarium pada perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian ovarium seperti sel granulosa, ovum, zona pelusida, techa internal dan techa external. Lapisan ovarium terletak pada bagian luar ovarium yang mana berfungsi melindungi ovarium dan organ-organ yang berada di dalamnya,korpus luteum yaitu untuk menghasilkan suatu hormon progesteron yang berguna untuk mengatur siklus menstruasi,gumpalan darah atau yang terbentuk akibat adanya kerusakan pada lapisan pembuluh darah, hubungan menstruasi dengan gumpalan darah yaitu dimana gumpalan darah dalam korpus luteum itu nantinya akan meluruh bersama sel ovum yang tidak dibuahi dan jaringan darah pada endometrium. oosit primer dan folikel muda yang merupakan folikel yang memiliki oosit Dimana folikel muda yang akan berkembang menjadi folikel matang, gumpalan darah, folikel muda, dan oosit primer. Ovarium corpus loteum terdiri atas beberapa komponen yaitu corpus loteum, ovum dan folikel. Coepus loteum yaitu massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. Dalam rahim, corpus loteum akan menghasilkan progesteron yang berfungsi untuk mengatur siklus menstruasi, mengembangkan jaringan payudara, dan menyiapkan rahim pada waktu kehamilan. Ovum yang merupakan sel telur atau sel reproduksi pada wanita. Folikel terletak di korteks ovarium dan dibagi menjadi dua berdasarkan tipe fungsinya, yaitu primordial (nongrowing) dan folikel yang tumbuh (growing). Folikel yang tumbuh dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu primer, skunder, tertier, matur (de Graaf) yang menyelubungi ovum yang matang dimana folikel ini berfungsi menghasilkan hormone estrogen, dan atretik (Kumar, 2002).
2.4 Perbedaan Villi, Silia dan Stereocilia
Villi adalah jaringan yang berbetuk seperti jonjot akar yang tertanam ke dalam endometrium. Jaringan ini berfungsi sebagai jalur pertukaran zat makanan dan sampah antara pembuluh darah calon ibu dengan janin.
Gambar 2.4.1 Villi (Udel, 2014).
 Silia terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct yang berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT5Dc2U76QgC2427qs8hIgEGyNGCSUPZBbJbrGrgeNB5CjFP0lv7QbVO7sktb2tXbEJzZ-aJY6xsPtcTGKlK0_NGvEw30LTDt_zUUX7JOqoO1bdXokK9UQj3ZYIMczevf9gboted08L8dT/s320/silia.jpg
Gambar 2.4.2 Silia (Yovita, 2014).
Stereocilia adalah semacam mikrovili yang besar, terdapat satu pada tiap sel. stereocilia merupakan variasi dai mikrovili. Karakter khususnya adalah mempunyai motilitas yang rendah. Pada dasarnya stereocilia merupakan modifikasi dari apikal sel. Berbeda dengan silia yang berfungsi mendorong benda melalui pergerakan, stereocilia berfungsi sebagai mekanosensing organel melalui tekanan dan mekanik rangsangan yang menjadi pesan listrik atau sinyal saraf (Lesson, 1991).


























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
       Sistem genitalia merupakan alat reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Sistem genitalia dibedakan menjadi dua bagian yaitu genitalia maskulin dan genitalia feminin. Pada pengamatan sistem genital maskulin yang diamati adalah bagian epididimis dan testis. Pada epididimis memiliki bagian-bagian seperti stereocilia, epitel pseudostratified columnar ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina propia, sedangkan testis memiliki bagian-bagian seperti tunika albuginia, sel leydig, lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel sertoli, spermatosit primer dan spermatosit sekunder. Pada sistem genital feminin yang diamati adalah ovarium yang memiliki bagian-bagian seperti sel granulosa, ovum, zona pelusida, techa internal dan techa external.

3.2 Saran
Disarankan untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.

















DAFTAR PUSTAKA

Adnan dan Pagarra, Halifah. 2010. Struktur Hewan. Makassar: Jurusan Biologi
    FMIPA UNM.
Amenta, peter S, 1990. Histologi dan Embriologi. Bandung: ITB
Bevelander, Gerrit. 1988. Dasar–Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Betibops.2014.http://www.histology.world.com/photoalbum/displayimage.php?album=59&pid=3564#top_display_media. Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Bresnick,Stephen.2003.Intisari Biologi.Jakarta:Hipokrates
Bracegirdle, Brian., Freeman.H.W.1970. An Atlas Histology.
Blakely, J and David.H.Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada  
            University Press. Yogjakarta.
Dellman, Dieter, H., and Brown, Esther M. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner, edisi ketiga, hal 108. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta
Frandson, R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Hurkat, P. and Mathur. 1976., A Text Book of Animal Physiology. S Chand and Co. Ltd., New Delhi.
Jamilatun.2011.http://jamilatunhidayah.duniakuhidupmu.blogspot.com/2011_12_01_archive.html. Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Junquiera, Carlos L., Carnerro Jote, Kelley Robert V. 1995. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kumar, Robin.2002. Ovarium dalam Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta: EGC.
Lesson paparo,alih bahasa dr Jon Tambayon.1991. Buku ajar Histologi. Buku penerbit   kedokteran EGC : Jakarta.
Sukra, Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio ; Benih Masa Depan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.
Udel.2014.http://www.udel.edu/biology/Wags/histopage/wagnerart/anaglyphpage/anaglyph.html. Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Yovita. 2014. http://yovitayudith.blogspot.com/. Diakses tanggal 16 Mei 2014.







  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar