LAPORAN
HISTOLOGI HEWAN
Sistem
Genital Maskulin dan Feminin
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Novembya Vilansari
LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Dasar Teori
Sistem
genitalia merupakan alat reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha
mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Sistem
genitalia dibedakan menjadi dua bagian yaitu genitalia maskulin dan genitalia
feminin. Sistem genitalia maskulin terdiri atas testis, saluran, kelenjar dan
bagian eksterna. Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh
kapsula fibrosa yang tebal (tunika albugenia) dan lapisan peritonium tunika
vaginalis viseralis, yang berupa jaringan ikat kolagen yang miskin vasa darah
dan elemen elastis. Tunika albugenia kaya akan vaskularisasi (stratum
vaskuler). Testis, terdapat tubulus seminiferus yang dibungkus jaringan ikat
halus (sel intertestial). Dinding tubulus seminiferus terdiri dari sel
epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel
spermatogenik. Sel penyokong disebut sel sustentakulum atau sel sentroli,
sedangkan sel spermatogenik dibagi menjadi beberapa berdasarkan morfologinya yaitu
: spermatogonia, spermatosit primer dan sekunder, spermatid dan spermatozoa.
Sel sertoli melekat pada lamina basalis dan sel spermatogenik dekat dengan
lumen (Hurkat, 1976 ).
Sel sertoli
berfugsi untuk melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan memberi
nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa.
Sel sertoli yang tampak mengalami mitosis, tetapi lebih tahan terhadap panas,
radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik.
Spermatogonia terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck
(leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok)
dan end piece (bagian ujung). Sel Interstitial atau sel leydig merupakan
jaringan ikat halus yang membungkus testis, berisi serabut saraf. Fungsi sel
leydig yaitu : mengatur aktivitas kelenjar prostat, memelihara tanda khas
jantan dan mengatur aktivitas spermatogenesis yang dibantu oleh hormon FSH dan
Hipofisis (Junqueira, 1995).
Saluran
terdiri atas Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli
Efferentes Testis, Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus
deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis). Tubuli rekti berupa saluran
pendek pada lobuli testis dengan epitel kubus selapis pada membrana basalis. Rete
testis berupa saluran atau rongga yang saling berhubungan dalam mediastinum
testis, terdiri epitel pipih selapis dan pembuluh darah serta saraf. Duktuli
efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel
basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di
dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Sekreta dari sel berperan
dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis. Epididimis atau
anak buah pelir, secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda
epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat tunika albuginea sebagai
stroma dengan mengandung otot polos yang didalamnya terdapat saluran yang
merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis. Fungsi
epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa. Duktus Deferens berupa saluran
tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Duktus deferens dibagi menjadi dua
bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar (Duktus deferens) dan bagian yang
berkelenjar (Ampulla). Funikulus Spermatikus berbentuk buluh, dibalut oleh
peritonium, didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan
berkas otot polos.Uretra mempunyai ukuran yang cukup panjang, berdasarkan
letaknya dibagi menjadi Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra
pars penis (Adnan, 2006).
Kelenjar
Asesorius (Glandula genitales asesorius) mempunyai ciri-ciri : Kelenjar
bermuara pada uretra, bagian stroma (kapsula jaringan ikat interstitial,
trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat
mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi dan Kelenjar berbentuk
tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas, bagian ujung kelenjar yang
meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta. Kelenjar asesorius
dibagi menjadi empat yaitu : ampula, vesibulares, prostat dan bulbo uretralis.
Bagian eksternal terdiri atas penis, prepusium dan skrotum. Penis dapat dibagi
atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus
kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae,
muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Prepusium terdiri atas dua bagian
yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut :
Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi.
Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung
penis sebagai pars viseralis. Skrotum terdiri atas integumentum kommunis dan
tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan
glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Tunika dartos
terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen
dan elastis (Bresnick, 2003).
Alat
reproduksi betina terdiri atas : ovarium, saluran dan ogan eksterna. Ovarium
merupakan organ primer. Saluran terdiri atas tuba fallopii, uterus, serviks dan
vagina. Alat kelamin luar terdipri atas vestibulum, labia-vulva dan klitoris.
Ovari berjumlah sepasang yang terletak pada rongga tubuh yang ditunjang oleh
alat penggantung (mesovarium). Ovaria mempunyai kelenjar ganda, yakni :
Kelenjar eksokrin yang menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin yang
menghasilkan hormon estrogen (folikel de graaf), progesteron (korpus
luteum) dan relaksin (korpus luteum). Ovari tersusun atas kapsula yeng terdiri
dari epitel silindris selapis dan tunika albugenia. Bagian korteks yang dari
stroma kortikalis (jaringan ikat) dan bagian medula (Amenta,1990).
Saluran
terdiri atas : Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus) yang berfungsi
untuk menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi
lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio
menuju uterus. Berdasarkan struktur morfologi dibagi menjadi infundibulum,
fimbria, ampula dan istmus. Uterus (Rahim) terdiri dari endometrium atau
disebut sebagai bagian dari mukosa dan submukosa, lamina epithelialis terdiri
atas epitel silindris sebaris. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang
hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis
jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut Zona spongiosa. Karunkula
(carunculae) merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan
banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Myometrium atau tunika
muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar
sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Servik merupakan pintu gerbang antara
uterus dan vagina. Epithelnya silindris sebaris bersifat sekretoris
menghasilkan lendir, dengan beberapa sel tampak memiliki silia (Dellman & Brown, 1989).
Vagina
berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan
dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina
terdapat dalam rongga perut yang ditutup oleh serosa, dan sisi lainnya terdapat
dalam ruang pelvis ditutup oleh adentitia. Fungsi vagina adalah : pada waktu
kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung.
Struktur histologi, mempunyai epithel pipih banyak lapis, pertandukan (keratinization)
pada permukaan epithel, lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung
berbatasan dengan sub mukosa, tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar
dan memanjang dan tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang
mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening
serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial
(Bresnick, 2003).
Alat Kelamin
Luar (Genitalia externa) terdiri atas Vestibulum, yang merupakan daerah
perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina
ditandai dengan adanya selaput dara (himen). Struktur histologi terdiri atas :
Lamina epithelialis pipih berlapis banyak. Lamina propria terdiri atas jaringan
ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis,
limponodulus banyak terdapat didalamnya. Glandula vestibularis minor, sub
mukosa yang sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Tunika
muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah
otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor
vulvae. Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan
vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya. Labia berupa bibir dari vestibulum
dengan komisura dorsalis dan ventralis. Klitoris secara anatomis terdiri atas :
badan (Corpus klitoridis) dan kepala (Glans klitoridis) dan selubung (Preptium
klitoridis) (Bavelander, 1988).
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk
mengamati dan memahami struktur histologi dari organ reproduksi baik jantan
maupun betina.
1.3 Manfaat
Manfaat
setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi
mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem Genital Maskulin dan Feminin seperti jaringan penyusun epididimis, teatis, serta
ovarium dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Epididimis
|
|
|
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.1.1 (a)
Epididimis (Betibops,
2014).
(b)
Epididimis foto pengamatan
(c) Epididimis hasil
pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat
penampang melintang epididimis pada perbesaran 400X terlihat adanya
bagian-bagian epididimis seperti stereocilia, epitel pseudostratified columnar
ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina propia. Lumen epididymis hanya
dilapisi oleh satu macam sel yaitu sel berambut silia yang tidak bergerak, karena
silianya tidak bergerak maka sel-sel ini disebut stereo
silia. (Sukra, 2000). Epididymis
merupakan pipa panjang dan berkelak-kelok yang menghubungkan vasa eferensia pada testis dengan
ductus deferens (vas deferens). Epidydimis berperan sebagai tempat untuk pemasakan spermatozoa sampai pada saat spermotozoa dikeluarkan dengan ejakulasi (Frandson,1992). Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat
ductus deferens menuju ke kepala epididymis. Spermatozoa belum masak ketika
meninggalkan testikel dan harus mengalami periode pemasakan di dalam epididymis
sebelum mampu membuahi ovum. (Blakely dan David,1998). Menurut Wahyuni (2012) Epididymis merupakan saluran
spermatozoa yang panjang dan berbelit, terbagi atas kaput, korpus, dan kauda
epididimidis, melekat erat pada testis dan dipisahkan oleh tunika albugeni.
Organ tersebut berperan penting pada proses absorpsi cairan yang berasal dari
tubuli seminiferi testis, pematangan, penyimpanan dan penyaluran spermatozoa ke
duktus deferens sebelum bergabung dengan plasma semen dan diejakulasikan ke
dalam saluran reproduksi betina.
Epididymis mempunyai empat fungsi
utama yaitu pengankutan atau transportasi, konsentrasi atau pengen talan
maturasi dan penyimpanan spermatozoa. Pengankutan spermatozoa diangkut dari
rete testis keductuli efferents testis oleh tekanan cairan didalam testis.
Pengentalan spermatozoa dari suspense sperma encer yang berasal dari testis
dengan konsentrasi 25.000 sampai 350.000 sel per mm3, air diresorbsi kedalam
sel-sel epitel terutama pada caput. Pematangan spermatozoa mungkin dicapai atas
pengaruh sekresi dari sel-sel epithel. Spermatozoa dari bagian cauda epididymis
telah memiliki kemampuan membuahi oosit yang sama baiknya dengan spermatozoa
hasil ejakulasi. Penyimpanan terjadi di cauda Epididymis. Konsentrasi
spermatozoa sangat tinggi dan lumuen ductus tersebut relative lebih luas. Setengah dari jumlah spermatozoa disimpan didalam
cauda yang membentuk seperempat dari panjang saluran epididymis. Waktu yang
dibutuhkan untuk perjalanan spermatozoa melalui epididymis bervariasi dan
tergantung pada kondisinya tetapi mungkin tidak kurang dari 14 hari pada semua
golongan hewan (Feradis,2010).
2.2 Testis
(a)
(b)
![]() |
(c)
(c)
Gambar 2.2.1 (a)
Testis (Jamilatun,
2011).
(b) Testis foto pengamatan
(c) Testis hasil
pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang testis pada perbesaran 400X
terlihat adanya bagian-bagian testis seperti tunika albuginia, sel leydig,
lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel sertoli,
spermatosit primer dan spermatosit sekunder.
Menurut (Feradis,2010). peningkatan
umur berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan ukuran panjang. Terdapat
hubungan positif (P<0,05) antara bobot badan dengan lingkar skrotum sebesar
r = 0,58. Pertumbuhan bobot badan dan testis dipengaruhi oleh peranan hormon
testosteron. Hormon testosteron dapat mempengaruhi pertambahan bobot badan
karena hormon testosteron dapat menstimulasi sintesis protein otot dan hal ini
dapat terjadi langsung dalam otot karena terdapat reseptor androgen Sperma
dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (follicle stimulating hormone ) sedangkan testoteron diproduksi oleh
sel-sel interstitioal dari leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial cell stimulating hormon). Menurut
Blakely dan David (1998) Hormon testoteron sendiri dihasilkan oleh sel-sel leydig yang terdapat
didalam jaringan pengikat diantara tubulus seminiferus.
Di bawah kulit
scrotum terdapat tunica dartos, suatu
selubung yang terdiri dari jaringan fibroelastik dan otot licin. Di bagian
tengah (sepanjang raphe scroti)
membentuk septum scroti yang
memisahkan scrotum dalam sebuah kantong yang terpisah. Lapisan berikutnya dalah
tunica vaginalis communis suau fascia
scrotalis tebal berwarna putih yang mengelilingi ke dau tengahan scrotum secara
terpisah, dan di bagian tengah di selubungi oleh lapisan parietal, processus vaginalis, suatu evaginasi
dari peritonium (Feradis,2010).
Skrotum
dengan otot–otot licinnya, lapisan fibrosa dan kulit berfungsi menunjang dan
melindungi testes dan epididymis dan
mempertahankan suhu yang lebih rendah daripada suhu badan yang diperlukan agar
spermatogenesis berlangsung secara normal Suhu testes 5
sampai 6oc di bawah suhu badan. Terdapat mekanisme yang berbeda yang
bekerja secara terpisah sehingga pengaturan suhu tersebut dapat berhasil. Suhu dingin,
otot-otot cremaster dapat menarik
scrotum sehingga suhu testes dapat dipertahankan hangat. Pada suhu panas otot
tersebut mengendur dan testes turun menjauhi tubuh sehingga memungkinkan
pelepasan panas hingga suhu testes menjadi lebih dingin. Otot lain yaitu tunica dartos yang mengelilingi kulit
scrotum dapat mengerut atau mengendorkan permukaan scrotum dan hal ini akan
memperluas permukaan scrotum sehingga mempengaruhi kecepatan hilangnya panas
(Feradis,2010).
2.3 Ovarium
![]() |
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.2.1 (a)
Ovarium (Bontocina, 2009).
(b) Ovarium foto pengamatan
(c) Ovarium hasil
pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang ovarium pada perbesaran 400X
terlihat adanya bagian-bagian ovarium seperti sel granulosa, ovum, zona
pelusida, techa internal dan techa external. Lapisan ovarium terletak pada
bagian luar ovarium yang mana berfungsi melindungi ovarium dan organ-organ yang
berada di dalamnya,korpus luteum yaitu untuk menghasilkan suatu hormon
progesteron yang berguna untuk mengatur siklus menstruasi,gumpalan darah atau
yang terbentuk akibat adanya kerusakan pada lapisan pembuluh darah, hubungan
menstruasi dengan gumpalan darah yaitu dimana gumpalan darah dalam korpus
luteum itu nantinya akan meluruh bersama sel ovum yang tidak dibuahi dan
jaringan darah pada endometrium. oosit primer dan folikel muda yang merupakan
folikel yang memiliki oosit Dimana folikel muda yang akan berkembang menjadi
folikel matang, gumpalan darah, folikel muda, dan oosit primer. Ovarium corpus
loteum terdiri atas beberapa komponen yaitu corpus loteum, ovum dan folikel.
Coepus loteum yaitu massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh
folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. Dalam rahim, corpus loteum
akan menghasilkan progesteron yang berfungsi untuk mengatur siklus menstruasi,
mengembangkan jaringan payudara, dan menyiapkan rahim pada waktu kehamilan.
Ovum yang merupakan sel telur atau sel reproduksi pada wanita. Folikel terletak
di korteks ovarium dan dibagi menjadi dua berdasarkan tipe fungsinya, yaitu
primordial (nongrowing) dan folikel yang tumbuh (growing). Folikel yang tumbuh
dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu primer, skunder, tertier, matur (de Graaf)
yang menyelubungi ovum yang matang dimana folikel ini berfungsi menghasilkan
hormone estrogen, dan atretik (Kumar, 2002).
2.4 Perbedaan Villi, Silia dan Stereocilia
Villi adalah jaringan yang
berbetuk seperti jonjot akar
yang tertanam ke dalam endometrium. Jaringan ini
berfungsi sebagai jalur pertukaran zat makanan dan sampah antara pembuluh darah calon ibu dengan janin.

Gambar
2.4.1 Villi (Udel, 2014).
Silia terdapat di bagian pangkal ovarium
berdekatan dengan ujung saluran oviduct yang berfungsi untuk menangkap sel ovum
yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium.

Gambar
2.4.2 Silia (Yovita, 2014).
Stereocilia
adalah semacam mikrovili yang besar, terdapat satu pada tiap sel. stereocilia
merupakan variasi dai mikrovili. Karakter khususnya adalah mempunyai motilitas
yang rendah. Pada dasarnya stereocilia merupakan modifikasi dari apikal sel.
Berbeda dengan silia yang berfungsi mendorong benda melalui pergerakan,
stereocilia berfungsi sebagai mekanosensing organel melalui tekanan dan mekanik
rangsangan yang menjadi pesan listrik atau sinyal saraf (Lesson, 1991).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem genitalia merupakan alat
reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi
jenis hewan dengan cara berkembang biak. Sistem genitalia dibedakan menjadi dua
bagian yaitu genitalia maskulin dan genitalia feminin. Pada pengamatan sistem
genital maskulin yang diamati adalah bagian epididimis dan testis. Pada
epididimis memiliki bagian-bagian seperti stereocilia, epitel
pseudostratified columnar ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina
propia, sedangkan testis memiliki bagian-bagian seperti tunika albuginia, sel
leydig, lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel
sertoli, spermatosit primer dan spermatosit sekunder. Pada sistem genital
feminin yang diamati adalah ovarium yang memiliki bagian-bagian seperti sel
granulosa, ovum, zona pelusida, techa internal dan techa external.
3.2 Saran
Disarankan untuk
praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih
memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami
materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan
dan Pagarra, Halifah. 2010. Struktur
Hewan. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM.
FMIPA UNM.
Amenta, peter S, 1990. Histologi
dan Embriologi. Bandung: ITB
Bevelander,
Gerrit. 1988. Dasar–Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Betibops.2014.http://www.histology.world.com/photoalbum/displayimage.php?album=59&pid=3564#top_display_media.
Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Bresnick,Stephen.2003.Intisari Biologi.Jakarta:Hipokrates
Blakely, J and David.H.Bade.
1998. Ilmu Peternakan. Gadjah
Mada
University
Press. Yogjakarta.
Bontocina.
2009. http://anatomytopics.wordpress.com//01/01/31-the-anatomy-histology-and-development-of-the-ovary/. Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Dellman,
Dieter, H., and Brown, Esther M. 1989. Buku
Teks Histologi Veteriner, edisi ketiga, hal 108. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta
Frandson,
R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak.
Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Hurkat, P.
and Mathur. 1976., A Text Book of Animal
Physiology. S Chand and Co. Ltd., New Delhi.
Jamilatun.2011.http://jamilatunhidayah.duniakuhidupmu.blogspot.com/2011_12_01_archive.html.
Diakses tanggal 16 Mei 2014.
Junquiera, Carlos L., Carnerro
Jote, Kelley Robert V. 1995. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kumar,
Robin.2002. Ovarium dalam Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta: EGC.
Lesson
paparo,alih bahasa dr Jon Tambayon.1991. Buku
ajar Histologi. Buku penerbit
kedokteran EGC : Jakarta.
Sukra,
Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio ; Benih Masa Depan. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.
Udel.2014.http://www.udel.edu/biology/Wags/histopage/wagnerart/anaglyphpage/anaglyph.html.
Diakses
tanggal 16 Mei 2014.
Yovita.
2014. http://yovitayudith.blogspot.com/. Diakses tanggal 16 Mei 2014.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar