Jumat, 06 Juni 2014

Histologi Sistem Saraf

LAPORAN HISTOLOGI HEWAN
Sistem Saraf






       
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Firda Agustina
 

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014







BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori
Saraf adalah bagian dari sistem saraf periferal. Saraf aferen membawa sinyal sensorik ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa sinyal dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar. Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson.Sel saraf yang dinamakan pula sel neron berbeda dengan sel-sel dari jaringan dasar lainnya karena adanya tonjolan-tonjolan yang panjang dari badan selnya. Semua jaringan mencerminkan sejarahnya dengan memeperlihatkan berbagai kemampuannya untuk penyesuaian dri pada keadaan baru selama hidup mereka. Jaringan saraf juga menspesialisasikan diri dalam kemampuan sepeti ini, menuju kea rah fungsi belajar dan ingat yang tidak begitu banyak dipahami. Meskipun banyak sifat khas organissi pesarafan itu telah terprogram secara genetik, namun detail– detail dari kontak–kontak seluler dan pembentukan sirkuit fungsional untuk popolasisel tampaknya terpengaruh oleh keadaan yang biasanya terdapat apabila sel-selnya memperoleh kontak mereka yang pertama (Gerrit, 1988).
     Jaringan saraf terdiri atas tiga unsur, unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel saraf, unsur putih serabut saraf dan neuroglia, sejenis sel pendukung yang dijumpai hanya dalam sistem saraf dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf. Setiap sel saraf dengan prosesusnya (juluran) disebut neuron. Sel saraf terdiri atas protoplasma yang berbulir khusus dengan nukleus besar dan dinding del seperti pada sel lainnya. Berbagai juluran timbul sel saraf, juluran timbul darinsel saraf, juluran ini mengantarkan ransangan saraf kepada dan dari sel saraf (Pearce, 2005).
     Neuron sering disebut sebagai aferen, atau sensorik, eferen, atau motorik, dan interneuron, yang bukan bersifat sensorik maupun motorik tetapi menghubungkan neuron dengan neuron lain. Neuron aferen dan eferen terletak sebagian besar di luar sistem saraf pusat (otak dan saraf kabelnya) dalam sistem saraf perifer, sementara interneuron, yang pada manusia adalah 99% dari semua neuron dalam tubuh, terletak sepenuhnya dalam sistem saraf pusat. Neuron aferen yang terhubung ke reseptor. Reseptro berfungsi untuk mengubah ransangan lingkungan eksternal dan internal menjadi sinyal saraf, yang dilakukan oleh neuron aferen ke dalam sistem saraf pusat. Disini sinyal dapat dianggap sebagai sensasi dasar. Sinyal saraf juga pindah ke neuron eferen, yang membawa mereka  melaui sistem saraf perifer ke efektor, seperti otot atau kelenjar (Anson, 2006).
     Sebuah neuron atau sel saraf, mungkin menganggap banyak bentuk, tergantung pada fungsi dan lokasi, jenis tipikal ditunujkkan dalam diagram. Dari sel tubuh berinti memperpanjang proses sitoplasma dari dua jenis, satu atau lebih dendrit dalam semua tetapi neuron sederhana, dan akson tunggal. Seperti nama dendrit menunjukkan, proses ini seringkali deras bercabang. Mereka, dan seluruh permukaan tubuh sel, adalah aparat reseptif sel saraf, sering mencari informasi dari beberapa sumber yang berbeda sekaligus. Beberapa masukan ini ransang, menyebabkan sinyal yang akan dihasilkan dan disebabkan, dan lainnya adalah penghambatan, membuat generasi sinyal dan propagasi kecil kemungkinannya (Anson, 2006).
     Apabila jaringan dilihat dibawah mikroskop, terlihat bahwa jaringan saraf tersusun atas neuron dan neuroglia. Neuron merupakan jaringan dasar sistem saraf. Bentuk yang paling besar merupakan badan sel. Mempunyai ukuran yang bervariasi sesuai posisi sel dan fungsinya. Setiap sel memiliki bentuk nukleus yang tetap dan protoplasmanya bergranula. Sel-sel membentuk badan abu-abu otak dan medula spinalis. Sel-sel tersebut mengalami beberapa proses. Dendrit merupakan percabangan pendek tempat impuls saraf masuk ke dalam sel dan akson (silinder aksis) merupakan serat tunggal tempat impuls keluar dari sel. Panjang akson bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter dan menghubungkan sel ke bagian ujung. Serabut saraf membentuk badan putih pada otak dan medula spinalis (Watson, 2002).

1.2 Tujuan
     Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat struktur histologi cerebelum dan medula spinalis.

1.3 Manfaat
     Manfaat setelah melaksanakan praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem saraf seperti jaringan penyusun cerebelum serta medula spinalis dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.





















BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Cerebelum
  
                               (a)                                                             (b)








                                                                (c)

Gambar 2.1.1 (a) Cerebelum (Noorhayati, 2006).
                       (b) Cerebelum
                       (c) Cerebelum hasil pengamatan

     Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang cerebelum pada perbesaran 100X terlihat adanya molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje cell. Serebelum terletak tepat di bawah bagian posterior otak besar. Serebelum merupakan pusat keseimbangan gerak, koordinasi gerak otot, serta posisi tubuh.Tepat di bagian bawah serebelum terdapat jembatan Varol.
     Pada cerebelum (otak kecil) substansia grisea serebeli terdapat di permukaan berupa korteks tipis di atas substansia alba yang terdapat di tengah, tetapi di bagian tengah serebellum terdapat juga kelompok-kelompok kecil sel-sel syaraf. Potongan melalui korteks serebeli memperlihatkan 3lapisanyaitu : lapisan terluar adalah lapisan tipis molekular terdiri atas sedikit sel saraf kecil dan banyak serat saraf tanpa mielin. Lapisan tengah terdiri atas selapis sel-sel besar (selPurkinje). Paling dalam adalah lapis granular terdiri atas banyak badan sel saraf kecil-kecil. Dikorteks terdapat pula ujung-ujung serat mossy dan serat-serat yang naik, yang masuk korteks serebeli dari substansia alba batang otak dan medula spinalis. Serat-serat mossy itu tebal dan bersinapsis pada sel-sel lapis granular. Serat-serat yang naik melintasi lapis granular dan berakhir pada sel-sel purkinje. Secara fungsional serebelum itu berhubungan dengan gerakanotot rangka, berhubungan dengan koordinasi , sikap tubuh dan keseimbangan (Luis, 2007).

2.2 Medula Spinalis
                 
                               (a)                                                               (b)    
                             

           





                                                                   (c)
Gambar 2.2.1 (a) Medula spinalis (Eroschenko, 2010).
                       (b) Medula spinalis
                       (c) Medula spinalis hasil pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang medula spinalis pada perbesaran 100X terlihat adanya bagian-bagian medula spinalis seperti white matter, grey matter dan central cancil. Pada perbesaran 400X terlihat bagian-bagian seperi sel saraf dan neuroglia.
     Pada semua tingkatan pada bagian tengah potongan melintang, terlihat suatu daerah berbentuk H yang merupakan substansia grisea terdiri atas sel-sel saraf. Badan sel saraf terletak pada berkelompok di dalam substansia grisea, neuron motorik yang besar-besar terdapat di kornus anterior. Subtansia alba, terbentuk dari serat-serat saraf, mengelilingi substansia grisea dan terbagi atas jalur-jalur memenjang (funikuli). Sel-sel saraf pada subtansia grisea bersifat multipolar. Akson-akson yang berasal dari beberapa diantaranya meninggalkan medula sebagai serat-serat akar ventralis, yang lain menyalurkan aksonnya kedalam substansia; yang lain lagi memiliki akson-akson pendek yang berakhir pada neuron-neuron dekat asalnya, terbatas pada substansia grisea. Substansia alba pada umumnya tidak mengandung badan-badan sel saraf atau dendrit-dendrit dan terbentuk oleh serat-serat saraf bermielin dan tidak bermielin. Pada permukaan medula terdapat daerah marginal sempit yang hanya diisi sel-sel glia (neuroglia) (Strete, 1995).


















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jaringan syaraf merupakan jaringan yang terspesialisasi mampu bereaksi terhadap stimuli dan mengantarkannya dari bagian tubuh yang satu ke bagian tubuh yang lain. Secara anatomi, sistem syaraf di bagi atas sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan sistem syaraf tepi (serabut syaraf dan gangglion). Secara struktural jaringan syaraf tersusun atas sel syaraf (neuron)dan sel-sel glia (neuroglia). Berdasarkan hasil pengamatan dari sistem saraf, cerebelum memiliki bagian-bagian seperti molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje cell. Sedangkan pada medula spinalis memiliki bagian-bagian seperti white matter, grey matter dan central cancil, sel saraf dan neuroglia.

3.2 Saran
Disarankan untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.

















DAFTAR PUSTAKA

Anson, dkk. Zoology. San Fransisco California: Thirteenth Edition, 2006.
Eroschenko, V. 2010. diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. Jakarta: EGC
Gerrit, Bevelander. Dasar-Dasar  Histologi. Jakarta: Erlangga, 1998.
Luis, Carlos, Junquiera., Jose, Carneiro. 2007.HISTOLOGI DASAR .Text & Atlas: EGC.
Noorhayati. 2006.Buku Ajar Histologi.http://noorhayati.blogger.id/.Diakses tanggal 07 Mei     2014.
Pearce, Evelyn. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: Gramedia, 2005.
Strete, Dennis PH.D.1995. A Color Atlas of Histology 1st edition. New York: Library of Congress.

Watson, Roger. Anatomi dann Fisiologi. Jakarta: EGC, 2002.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar