LAPORAN
HISTOLOGI HEWAN
Sistem
Saraf
Oleh :
Varni Apensa
135090101111019
Asisten PJ : Firda Agustina
LABORATORIUM
FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Dasar Teori
Saraf adalah
bagian dari sistem saraf periferal. Saraf aferen membawa sinyal sensorik ke
sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa sinyal dari sistem saraf
pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar. Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson.Sel saraf yang
dinamakan pula sel neron berbeda dengan sel-sel dari jaringan dasar lainnya
karena adanya tonjolan-tonjolan yang panjang dari badan selnya. Semua jaringan
mencerminkan sejarahnya dengan memeperlihatkan berbagai kemampuannya untuk
penyesuaian dri pada keadaan baru selama hidup mereka. Jaringan saraf juga
menspesialisasikan diri dalam kemampuan sepeti ini, menuju kea rah fungsi
belajar dan ingat yang tidak begitu banyak dipahami. Meskipun banyak sifat khas
organissi pesarafan itu telah terprogram secara genetik, namun detail– detail
dari kontak–kontak seluler dan pembentukan sirkuit fungsional untuk popolasisel
tampaknya terpengaruh oleh keadaan yang biasanya terdapat apabila sel-selnya
memperoleh kontak mereka yang pertama (Gerrit, 1988).
Jaringan saraf terdiri atas tiga
unsur, unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel saraf, unsur putih serabut
saraf dan neuroglia, sejenis sel pendukung yang dijumpai hanya dalam sistem
saraf dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf. Setiap
sel saraf dengan prosesusnya (juluran) disebut neuron. Sel saraf terdiri atas
protoplasma yang berbulir khusus dengan nukleus besar dan dinding del seperti
pada sel lainnya. Berbagai juluran timbul sel saraf, juluran timbul darinsel
saraf, juluran ini mengantarkan ransangan saraf kepada dan dari sel saraf (Pearce,
2005).
Neuron sering disebut sebagai
aferen, atau sensorik, eferen, atau motorik, dan interneuron, yang bukan
bersifat sensorik maupun motorik tetapi menghubungkan neuron dengan neuron
lain. Neuron aferen dan eferen terletak sebagian besar di luar sistem saraf
pusat (otak dan saraf kabelnya) dalam sistem saraf perifer, sementara
interneuron, yang pada manusia adalah 99% dari semua neuron dalam tubuh,
terletak sepenuhnya dalam sistem saraf pusat. Neuron aferen yang terhubung ke
reseptor. Reseptro berfungsi untuk mengubah ransangan lingkungan eksternal dan
internal menjadi sinyal saraf, yang dilakukan oleh neuron aferen ke dalam
sistem saraf pusat. Disini sinyal dapat dianggap sebagai sensasi dasar. Sinyal
saraf juga pindah ke neuron eferen, yang membawa mereka melaui sistem saraf perifer ke efektor,
seperti otot atau kelenjar (Anson, 2006).
Sebuah
neuron atau sel saraf, mungkin menganggap banyak bentuk, tergantung pada fungsi
dan lokasi, jenis tipikal ditunujkkan dalam diagram. Dari sel tubuh berinti
memperpanjang proses sitoplasma dari dua jenis, satu atau lebih dendrit dalam
semua tetapi neuron sederhana, dan akson tunggal. Seperti nama dendrit
menunjukkan, proses ini seringkali deras bercabang. Mereka, dan seluruh
permukaan tubuh sel, adalah aparat reseptif sel saraf, sering mencari informasi
dari beberapa sumber yang berbeda sekaligus. Beberapa masukan ini ransang,
menyebabkan sinyal yang akan dihasilkan dan disebabkan, dan lainnya adalah
penghambatan, membuat generasi sinyal dan propagasi kecil kemungkinannya
(Anson, 2006).
Apabila
jaringan dilihat dibawah mikroskop, terlihat bahwa jaringan saraf tersusun atas
neuron dan neuroglia. Neuron merupakan jaringan dasar sistem saraf. Bentuk yang
paling besar merupakan badan sel. Mempunyai ukuran yang bervariasi sesuai
posisi sel dan fungsinya. Setiap sel memiliki bentuk nukleus yang tetap dan protoplasmanya
bergranula. Sel-sel membentuk badan abu-abu otak dan medula spinalis. Sel-sel
tersebut mengalami beberapa proses. Dendrit merupakan percabangan pendek tempat
impuls saraf masuk ke dalam sel dan akson (silinder aksis) merupakan serat
tunggal tempat impuls keluar dari sel. Panjang akson bervariasi dari beberapa
milimeter sampai beberapa sentimeter dan menghubungkan sel ke bagian ujung.
Serabut saraf membentuk badan putih pada otak dan medula spinalis (Watson, 2002).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan
dari praktikum ini adalah untuk melihat struktur histologi cerebelum dan medula
spinalis.
1.3 Manfaat
Manfaat setelah melaksanakan
praktikum ini adalah dapat membantu mahasiswa biologi mempelajari peran dan
struktur jaringan penyusun sistem saraf seperti jaringan penyusun cerebelum serta medula spinalis dan dapat
dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.
BAB II
HASIL DAN
PEMBAHASAN
2.1 Cerebelum
(a)
(b)
(c)
Gambar
2.1.1 (a) Cerebelum (Noorhayati, 2006).
(b) Cerebelum
(c) Cerebelum hasil
pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang cerebelum pada perbesaran
100X terlihat adanya molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje
cell. Serebelum terletak tepat di bawah bagian posterior
otak besar. Serebelum merupakan pusat keseimbangan gerak, koordinasi gerak
otot, serta posisi tubuh.Tepat di bagian bawah serebelum terdapat jembatan
Varol.
Pada
cerebelum (otak kecil) substansia grisea serebeli terdapat di permukaan berupa
korteks tipis di atas substansia alba yang terdapat di tengah, tetapi di bagian
tengah serebellum terdapat juga kelompok-kelompok kecil sel-sel syaraf.
Potongan melalui korteks serebeli memperlihatkan 3lapisanyaitu : lapisan terluar
adalah lapisan tipis molekular terdiri atas sedikit sel saraf kecil dan banyak
serat saraf tanpa mielin. Lapisan tengah terdiri atas selapis sel-sel besar
(selPurkinje). Paling dalam adalah lapis granular terdiri atas banyak badan sel
saraf kecil-kecil. Dikorteks terdapat pula ujung-ujung serat mossy dan
serat-serat yang naik, yang masuk korteks serebeli dari substansia alba batang
otak dan medula spinalis. Serat-serat mossy itu tebal dan bersinapsis pada
sel-sel lapis granular. Serat-serat yang naik melintasi lapis granular dan
berakhir pada sel-sel purkinje. Secara fungsional serebelum itu berhubungan
dengan gerakanotot rangka, berhubungan dengan koordinasi , sikap tubuh dan
keseimbangan (Luis, 2007).
2.2 Medula Spinalis
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.2.1 (a)
Medula spinalis (Eroschenko, 2010).
(b) Medula spinalis
(c) Medula spinalis
hasil pengamatan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada preparat penampang melintang medula spinalis pada
perbesaran 100X terlihat adanya bagian-bagian medula spinalis seperti white
matter, grey matter dan central cancil. Pada perbesaran 400X terlihat
bagian-bagian seperi sel saraf dan neuroglia.
Pada
semua tingkatan pada bagian tengah potongan melintang, terlihat suatu daerah
berbentuk H yang merupakan substansia grisea terdiri atas sel-sel saraf. Badan
sel saraf terletak pada berkelompok di dalam substansia grisea, neuron motorik
yang besar-besar terdapat di kornus anterior. Subtansia alba, terbentuk dari
serat-serat saraf, mengelilingi substansia grisea dan terbagi atas jalur-jalur
memenjang (funikuli). Sel-sel saraf pada subtansia grisea bersifat multipolar.
Akson-akson yang berasal dari beberapa diantaranya meninggalkan medula sebagai
serat-serat akar ventralis, yang lain menyalurkan aksonnya kedalam substansia;
yang lain lagi memiliki akson-akson pendek yang berakhir pada neuron-neuron
dekat asalnya, terbatas pada substansia grisea. Substansia alba pada umumnya
tidak mengandung badan-badan sel saraf atau dendrit-dendrit dan terbentuk oleh
serat-serat saraf bermielin dan tidak bermielin. Pada permukaan medula terdapat
daerah marginal sempit yang hanya diisi sel-sel glia (neuroglia) (Strete, 1995).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Jaringan
syaraf merupakan jaringan yang terspesialisasi mampu bereaksi terhadap stimuli
dan mengantarkannya dari bagian tubuh yang satu ke bagian tubuh yang lain. Secara
anatomi, sistem syaraf di bagi atas sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang
belakang) dan sistem syaraf tepi (serabut syaraf dan gangglion). Secara
struktural jaringan syaraf tersusun atas sel syaraf (neuron)dan sel-sel glia
(neuroglia). Berdasarkan hasil pengamatan dari sistem saraf, cerebelum memiliki
bagian-bagian seperti molekuler layer, white matter, grey matter dan purkinje
cell. Sedangkan pada medula spinalis memiliki bagian-bagian seperti white
matter, grey matter dan central cancil, sel saraf dan neuroglia.
3.2 Saran
Disarankan
untuk praktikan agar lebih tertib lagi dalam melaksanakan praktikum dan lebih
memperhatikan saat materi diterangkan, sehingga dapat dengan mudah memahami
materi yang diberikan dan praktikum bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Anson, dkk. Zoology.
San Fransisco California: Thirteenth Edition, 2006.
Eroschenko, V. 2010.
diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. Jakarta: EGC
Gerrit, Bevelander. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga, 1998.
Luis, Carlos, Junquiera., Jose, Carneiro. 2007.HISTOLOGI DASAR .Text & Atlas:
EGC.
Pearce, Evelyn. Anatomi
dan Fisiologi. Jakarta: Gramedia, 2005.
Strete,
Dennis PH.D.1995. A Color Atlas of
Histology 1st edition. New York: Library of Congress.
Watson, Roger. Anatomi
dann Fisiologi. Jakarta: EGC, 2002.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar